Monday, February 20, 2012

Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis





“Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Ada legenda bahwa segala sesuatu yang jatuh ke sungai ini - dedaunan, serangga, bulu burung- akan berubah menjadi batu yang membentuk dasar sungai. Kalau saja aku dapat mengeluarkan hatiku dan melemparkannya ke arus, maka kepedihan dan rinduku akan berakhir, dan akhirnya aku pun melupakan semuanya. Di tepi Sungai Piedra aku duduk dan menangis. Udara musim dingin membuat air mata yang mengalir di pipiku terasa dingin, dan air mataku menetes ke air sungai dingin yang mengelegak melewatiku. Di suatu tempat entah dimana, sungai ini akan bertemu sungai lain, lalu yang lain lagi, hingga –jauh dari hati dan pandanganku– semuanya menyatu dengan lautan. Semoga air mataku mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu hari aku pernah menangis untuknya. Semoga air mataku mengalir sejauh- jauhnya, agar aku dapat melupakan Sungai Piedra, biara, gereja di Pegunungan Pyrenee, kabut, dan jalan-jalan yang kami lalui bersama. Aku akan melupakan jalan- jalan, pegunungan, dan padang-padang mimpi-mimpiku, mimpi-mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan.” By The River Piedra I Sat Down and Wept -Paulo Coelho

=====================

Baru saja selesai membaca buku ini,  dipertengahan cerita 'sama persis' kesakitannya dengan kondisi sekarang. Buku ini bercerita tentang seorang gadis bernama Pilar adalah seorang  yang tumbuh dewasa di sebuah kota. Dia tumbuh selayaknya seorang gadis dalam masa mudanya. Meniti studinya, berjuang dalam karirnya serta menjalin kasih bersama kekasih-kekasih hatinya. Tetapi di sisi hidupnya, ia memiliki ikatan kasih dengan teman pria masa kecilnya. Sepucuk demi sepucuk surat membawa kepada rangkaian hubungan kasih yang terbentuk rapi di dalam angannya. Dari ribuan kota kekasih hatinya ini mengirimkan cerita-cerita tentang kehidupannya.

Tapi apa yang terjadi ketika ia bertemu dengan kekasihnya setelah sebelas tahun?

Waktu menjadikan Pilar seorang wanita yang tegar dan mandiri. Sedangkan kekasih pertamanya telah menjelma menjadi seorang pemimpin spiritual yang tampan dan kharismatik. Dengan sejuta harapan, dibawa dirinya untuk melakukan perjalanan selama 4 jam dari Zaragoza ke Madrid. Hanya untuk kembali mengenang masa lalu, mendengarkan suara pria dari masa lalunya, menatap wajah tampan pria dari masa lalunya. Pertemuan setelah sebelas tahun tersebut membawanya ke dalam petualangan dalam memahami cinta dan kehidupan. Pilar telah belajar mengendalikan perasaan-perasaannya dengan sangat baik, sedangkan kekasihnya memilih kehidupan agama sebagai bentuk pelarian bagi konflik-konflik batinnya. Perjalanan tidak mudah, sebab dipenuhi oleh sikap menyalahkan dan penolakan yang muncul kembali setelah lebih dari sepuluh tahun terkubur dalam-dalam di hati mereka. Dan pada akhirnya, di tepi sungai Piedra, cinta mereka sekali lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan terpenting yang bisa disodorkan oleh kehidupan. Dan akhir ceritanya tebak saja :)

Ceritanya seru, memberi banyak gambaran yang baik tentang hidup. Mungkin itu juga yang ngebuat aku suka dengan karya sastra Paulo.   Dari cerita ini memiliki kesimpulan akan arti pentingnya penyerahan diri. Cerita pada tokoh-tokoh dalam buku ini menggambarkan tentang konflik-konflik yang kita hadapi dalam perjalanan mencari cinta. Paulo Coelho mengatakan bahwa cepat ataupun lambat, kita harus menghadapi ketakutan kita, karena jalan spiritual hanya dapat ditempuh melalui pengalaman sehari-hari akan cinta.


Kita bisa tau kenapa terkadang orang merasa menderita karena cinta yang sia- sia. Sebenernya kita menderita karena telah memberikan lebih dari yang kita terima. Kita menderita karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kita menderita karena kita tidak dapat memaksakan kehendak kita sendiri. Tapi sebenarnya tidak ada alasan untuk menderita, sebab dalam setiap cinta ada benih pertumbuhan diri. Semakin kita mencintai, semakin kita dekat dengan pengalaman spiritual. Mereka yang benar-benar dicerahkan dan jiwanya diterangi oleh cinta akan sanggup mengatasi setiap rintangan dan prasangka.

Mereka bahagia, Pilar dan laki-laki itu bagia. Karena orang- orang yang mencintai akan menakhlukkan dunia dan tidak takut akan kehilangan. Cinta sejati adalah penyerahan diri yang seutuhnya. Dan mungkin pada dasarnya kehidupan spiritual adalah mencintai. Kita tidak mencintai demi melakukan kebaikan atau untuk menolong dan melindungi seseorang. Kalau sikap kita seperti itu, kita menjadikan orang lain sebagai objek dan kita mengganggap diri kita orang yang bijaksana dan murah hati. Dan itu tidak baik memang.



Mencintai adalah melebur dengan orang yang kita cintai dan menemukan percikan Tuhan di dalam dirinya. :)

Posted via Blogaway

0 comments:

Post a Comment